Pada tulisan sebelumnya, saya telah
menjelaskan mengenai latar belakang munculnya gagasan HMI Dakwah Bangkit,
yang mana dengan tulisan itu saya berharap agar seluruh keluarga Dakwah dapat
mewujudkan itu, dan sampai saat ini saya sangat meyakini bahwa HMI Dakwah
Bangkit itu merupakan keinginan setiap setiap kader yang sedang dan pernah berproses
di HMI Komisariat Dakwah.
Mengutip
apa yang pernah disampaikan oleh salah satu Ketua Umum HMI Komisariat Dakwah
pada suatu diskusi bahwa “Setiap orang memiliki karakter yang berbeda,
sehingga jangan disamakan”. Saya memahami pernyataan itu tidak sekedar cara
bersikap sesorang, namun juga pandangan dan pemahamannya dalam menyikapi segala
sesuatu, terkhusus dalam hal ini dalam mewujudkan HMI Dakwah Bangkit.
Dengan pemahaman
demikian, maka melalui tulisan ini saya hendak berbagi gagasan yang saya miliki
dalam mewujudkan HMI Dakwah Bangkit tersebut, agar gerak dan langkah
saya beserta keluarga Dakwah yang lain bisa sinergis dan seirama dalam
mewujudkannya. Dan jikalau dalam gagasan ini terdapat kekurangan di dalamnya
agar bisa dikoreksi bersama oleh kita semua keluarga Dakwah sehingga apa yang
saya lakukan juga bisa sinergis dan seirama tanpa ada tumpang tindih dan
bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Dakwah yang lain.
Ibarat
orang berjalan, kaki kanan dan kaki kirinya akan bisa mengantarkan orang itu ke
suatu tempat karena seirama dalam menapaki perjalanannya, seirama tidaklah
berarti sama, namun juga tidak bertolak belakang (dalam tujuan dan cara
melangkahnya).
Dalam
tulisan sebelumnya yang saya beri judul HMI
Dakwah Bangkit disana sedikit dijelaskan bahwa untuk mewujudkan HMI
Dakwah Bangkit maka diperlukan
penyatuan gagasan, pikiran dan emosional dari seluruh bagian di keluarga
Dakwah, baik itu kader ataupun alumni, hal itu juga sudah menjadi rekomendasi
pada RAK 2015 namun betapa mirisnya ketika melihat hasil-hasil rekomendasi seperti itu tidak
mampu diaplikasikan dalam perjalanan kepengurusan periode berjalan, sehingga forum RAK
yang awalnya menjadi forum tertinggi, berubah maknanya menjadi forum pengadilan
pengurus, serta ajang unjuk kekuatan siapa yang paling banyak massanya
(Penjelasan lebih lanjut mengenai RAK bisa dilihat di ART HMI Bagian III Pasal
17, 18, 19).
Terlepas
dari kekurangan yang ada, bukan saatnya kita saling menyalahkan, menghakimi
apalagi mencari kambing hitam atas apa-apa yang sudah terjadi, karena musuh
paling jahat ada dalam diri kita masing-masing yakni ‘Ego’ dan perjuangan
paling berat adalah berjuang melawan diri kita sendiri, sehingga kita tahu
bersama bahwa yang menjadi kekuatan organisasi besar HMI ini adalah
jaringannya, jaringan yang dimaksud adalah silaturraHMI antara kader dengan
alumni, antara alumni dengan alumni dan antara kader dengan para kader.
Maka yang paling
penting untuk bisa kita lakukan saat ini adalah memulai untuk introspeksi diri
sambil lalu menjadikan momentum (forum-forum) yang ada untuk merajut kembali
kebersamaan yang retak dan tidak harmonis di waktu-waktu sebelumnya.
Jangan sampai waktu yang tersisa ini terbuang percuma hingga pada akhirnya kita tidak pernah merasakan hasil dari perjalanan ini.
#HMIDakwahBangkitmenujuKongkrit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar