Sabtu, 01 April 2017

Mengkongkritkan Gagasan HMI Dakwah Bangkit melalui Komunikasi Lintas Generasi

~ Renungan dari Sebuah Perjalanan~
Pada tulisan sebelumnya, saya telah menjelaskan mengenai latar belakang munculnya gagasan HMI Dakwah Bangkit, yang mana dengan tulisan itu saya berharap agar seluruh keluarga Dakwah dapat mewujudkan itu, dan sampai saat ini saya sangat meyakini bahwa HMI Dakwah Bangkit itu merupakan keinginan setiap setiap kader yang sedang dan pernah berproses di HMI Komisariat Dakwah.

Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh salah satu Ketua Umum HMI Komisariat Dakwah pada suatu diskusi bahwa “Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, sehingga jangan disamakan”. Saya memahami pernyataan itu tidak sekedar cara bersikap sesorang, namun juga pandangan dan pemahamannya dalam menyikapi segala sesuatu, terkhusus dalam hal ini dalam mewujudkan HMI Dakwah Bangkit.

Dengan pemahaman demikian, maka melalui tulisan ini saya hendak berbagi gagasan yang saya miliki dalam mewujudkan HMI Dakwah Bangkit tersebut, agar gerak dan langkah saya beserta keluarga Dakwah yang lain bisa sinergis dan seirama dalam mewujudkannya. Dan jikalau dalam gagasan ini terdapat kekurangan di dalamnya agar bisa dikoreksi bersama oleh kita semua keluarga Dakwah sehingga apa yang saya lakukan juga bisa sinergis dan seirama tanpa ada tumpang tindih dan bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Dakwah yang lain.

Ibarat orang berjalan, kaki kanan dan kaki kirinya akan bisa mengantarkan orang itu ke suatu tempat karena seirama dalam menapaki perjalanannya, seirama tidaklah berarti sama, namun juga tidak bertolak belakang (dalam tujuan dan cara melangkahnya).

Dalam tulisan sebelumnya yang saya beri judul HMI Dakwah Bangkit disana sedikit dijelaskan bahwa untuk mewujudkan HMI Dakwah Bangkit  maka diperlukan penyatuan gagasan, pikiran dan emosional dari seluruh bagian di keluarga Dakwah, baik itu kader ataupun alumni, hal itu juga sudah menjadi rekomendasi pada RAK 2015 namun betapa mirisnya ketika melihat hasil-hasil rekomendasi seperti itu tidak mampu diaplikasikan dalam perjalanan kepengurusan periode berjalan, sehingga forum RAK yang awalnya menjadi forum tertinggi, berubah maknanya menjadi forum pengadilan pengurus, serta ajang unjuk kekuatan siapa yang paling banyak massanya (Penjelasan lebih lanjut mengenai RAK bisa dilihat di ART HMI Bagian III Pasal 17, 18, 19).

Terlepas dari kekurangan yang ada, bukan saatnya kita saling menyalahkan, menghakimi apalagi mencari kambing hitam atas apa-apa yang sudah terjadi, karena musuh paling jahat ada dalam diri kita masing-masing yakni ‘Ego’ dan perjuangan paling berat adalah berjuang melawan diri kita sendiri, sehingga kita tahu bersama bahwa yang menjadi kekuatan organisasi besar HMI ini adalah jaringannya, jaringan yang dimaksud adalah silaturraHMI antara kader dengan alumni, antara alumni dengan alumni dan antara kader dengan para kader.

Maka yang paling penting untuk bisa kita lakukan saat ini adalah memulai untuk introspeksi diri sambil lalu menjadikan momentum (forum-forum) yang ada untuk merajut kembali kebersamaan yang retak dan tidak harmonis di waktu-waktu sebelumnya.

Jangan sampai waktu yang tersisa ini terbuang percuma hingga pada akhirnya kita tidak pernah merasakan hasil dari perjalanan ini. 

#HMIDakwahBangkitmenujuKongkrit
Continue Reading...

Sabtu, 25 Juni 2016

Sebuah Renungan !!!

Oleh ; Azmi Pane
Saya tidak tahu harus memberikan judul apa pada tulisan ini, yang jelas saya ingin sedikit sharing atas kegeliasahan yang saya alami melalui tulisan ini, dan mudah-mudahan bisa mendapatkan tanggapan.
Saya belajar banyak hal dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), HMI telah mengajarkan bahwa organisasi itu tidak sekedar mengajarkan serta menguatkan proses birokrasi/kelembagaan bagi kader-kadernya, namun mengajarkan serta menguatkan hal-hal lain seperti berideologi (pemikiran), proses kekeluargaan, berkontestasi dalam momentum politik dan banyak hal lain yang tidak bisa saya bahasakan.
Sejak mengikuti LK1 pada 2011 tujuan saya berkader di HMI untuk belajar dan memperkuat pengalaman berorganisasi saya, tentunya setelah saya di HMI tujuan belajar tersebut menjadi terintegrasi dengan tujuan HMI, yakni ikut bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT, tidak hanya keadilan dan kemakmuran untuk diri sendiri.
Akan tetapi dalam beberapa bulan terakhir saya mengalami kegelisahan dan kebingungan, saya merasa bahwa tujuan belajar yang sudah terintegrasi dengan tujuan HMI ini, kurang relevan, sehingga kebingungan dan kegelisahan itulah yang muncul, seiring dengan bertambahnya usia perkaderan saya di HMI, saat ini saya sudah berstruktur di kepengurusan Cabang di HMI Cabang Surabaya.
Disitulah kebingungan dan kegelisahan saya semakin membuat saya gelisah. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan silaturrahmi dengan salah satu alumni, dalam sharing yang kami lakukan, saya mendapatkan saran agar saya berfikir untuk masa depan, penting bagi saya secara pribadi, yang juga masih aktif berproses di HMI agar tidak sekedar menjalankan proses perkaderan itu sebagai sebuah proses pembelajaran saja, namun mulai berfikir untuk menjalankan proses perkaderan itu sebagai jalan untuk mencapai keinginan-keinginan saya di masa depan, tentunya tanpa meninggalkan pedoman-pedoman yang ada di HMI.
Dalam hal ini, kebingungan saya adalah bagaimana menjalankan proses perkaderan itu agar bisa menjadi jalan untuk mencapai keinginan-keinginan di masa depan, tanpa meninggalkan pedoman-pedoman di HMI, sepanjang pengetahuan saya, bahwa pedoman perkaderan di HMI itu, menuntun kader-kadernya agar memiliki skill dan softskill, untuk menjadi bekal di masa depan, bukan menjadikan jabatan di struktural sebagai jalan untuk menjadi jalan bagi dirinya mendapatkan keuntungan, dengan kata lain jabatan struktur di HMI menjadi jalan untuk melahirkan kebijakan, agar menciptakan proses perkaderan yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan pedoman perkaderan itu sendiri, sehingga bisa melahirkan kader-kader yang memiliki skill dan softskill yang mampu bersaing dengan kondisi zaman yang ada.
Saya memaknai saran dari salah satu alumni itu sebagai upaya menjadikan proses perkadean yang saya jalani di HMI saat ini menjadi proses untuk mencapai tujuan pribadi di masa depan (sebut saja realistis bahkan pragmatis), namun pikiran dan semangat saya adalah sesuai dengan pedoman di HMI dan sedikit bertabrakan dengan saran dari salah satu alumni tersebut (tanpa bermaksud menolak apa yang di sarankan salah satu alumni tersebut)
Pada akhirnya saya serba dilematis dan bingung, satu sisi saya memang memiliki keinginan untuk menata dan menyiapkan diri untuk mewujudkan keinginan saya, di masa-masa yang akan datang, dan pada sisi yang lain saya saat ini mendapatkan amanah menjadi salah satu pengurus HMI Cabang Surabaya dengan tugas sebagaimana saya tuliskan sebelumnya.
Ingin menjadikan jabatan struktur yang sedang saya emban saat ini, sebagai jalan untuk mewujudkan keinginan saya di masa depan, bagaimana caranya. Begitupun sebaliknya, ingin menjadikan jabatan ini untuk melahirkan kebijakan yang sesuai dengan pedoman juga kebingungan ke mana kebijakan itu akan di arahkan, sesuai dengan kebutuhan atau asumsi diri sendiri. Apa yang mesti saya lakukan saat ini???
Continue Reading...

Kamis, 23 Juni 2016

PERMOHONAN MAAF


~  Sebuah Perjalanan Evaluatif-Progressif ~
            Dalam Pengantar Buku Merebut Optimisme HMI dan Masa Depan Indonesia, Arief Rosyid Hasan (Ketua Umum PB HMI Periode 2013-2015) menyebutkan bahwa “HMI adalah organisasi mahasiswa,yang terdiri dari anak-anak muda yang sedang tumbuh dalam pergulatan dan pencarian diri”.
        Dengan pemahaman itulah maka wajar apabila dalam proses seorang kader melakukan kesalahan dalam proses perkaderannya, kesalahan itu bisa berupa kesalahan pemahaman, cara pandang dan tidak menutup kemungkinan akan berefek pada kesalahan kader tersebut dalam bersikap dan menyikapi hal-hal yang terjadi selama proses perkaderannya, dalam pandangan saya kesalahan yang dilakukan itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran apabila kesalahan itu mampu dipahami, dan tengtunya akan menjadi proses pendewasaan baik secara mental, pemikiran dan tentunya dalam bersikap, barangkali ini yang dimaksudkan Arief Rosyid dalam pengantar bukunya tersebut.
Berawal dari ajakan seorang teman yang juga pernah satu kepengurusan di Komisariat untuk menemani dalam urusan pekerjaannya di Kabupaten Gresik, yang sekaligus saya niatkan untuk bisa bersilaturrahmi dengan salah satu alumni komisariat yang masih cukup muda, secara semangat, usia dan pemikiran tidak terlalu berbeda jauh untuk bisa saling nyambung diantara kita.
Pada saat itulah saya memulai sharing akan beberapa hal, diawali dengan bagaimana menatap masa depan, penting bagi saya secara pribadi yang juga masih aktif berproses di HMI tidak sekedar menjalankan proses perkaderan itu sebagai sebuah proses pembelajaran saja namun agar mulai berfikir untuk menjalankan proses perkaderan itu sebagai jalan untuk mencapai keinginan-keinginan saya di masa depan tentunya tanpa meninggalkan pedoman-pedoman yang ada di HMI.
Lebih jauh sharing kami adalah mencoba mengevaluasi proses perkaderan saya di masa lalu sewaktu saya berproses di tingkat Komisariat, tidak menyangka dari proses evaluasi tersebut banyak kekurangan yang saya lakukan di masa lalu, terlebih berkaitan dengan komunikasi yang intens dan cara bersikap kepada para senior dan alumni, terlebih pada saat saya menjadi pengurus di Komisariat waktu itu, sehingga efek dari hal itu, banyak terjadi kesalah-pahaman, ketidak-seimbangan dan hal-hal lain dalam perjalanan proses perkaderan saya hingga saat ini.
Setelah sharing yang dilakukan dengan salah satu alumni tersebut, tidak berlebihan kiranya apabila melalui tulisan ini saya menyampaikan permohonan maaf atas nama kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kepada kawan-kawan seangkatan, para senior dan alumni serta kawan-kawan satu kepengurusan yang pernah tersakiti oleh perlakuan saya selama berproses di HMI khususnya di HMI Komisariat Dakwah.
Barangkali ucapan maaf ini tidaklah cukup memperbaiki kesalahan saya yang pernah dilakukan di masa lalu, namun ke depan saya berharap bisa bersinergis dengan seluruh keluarga besar HMI Komisariat Dakwah untuk bersama-sama menjalin komunikasi dan silaturrahmi yang baik dalam konteks saling tolong menolong dalam kebaikan untuk mencapai cita-cita kita bersama, atau yang dalam pandangan saya dan kawan-kawan seangkatan cita-cita bersama itu lebih akrab dengan sebutan HMIDakwah Bangkit sebagaimana pernah saya jelaskan dalam tulisan saya.
Continue Reading...

Rabu, 13 Januari 2016

#HMIDakwahBangkit

Antara (sekedar) Jargon atau Keinginan Bersama
Oleh: Azmi Pane

Sebelum  saya  menuliskan  pandangan  saya  tentang  gagasan  HMI  Dakwah  Bangkit ada baiknya saya menuliskan terlebih dahulu latar belakang munculnya gagasan HMI Dakwah Bangkit, sejak saya menjadi pengurus HMI Komisariat Dakwah untuk periode yang kedua yakni di periode 2013-2014 sejak saat itulah keinginan menjadikan HMI Komisariat Dakwah bisa bersaing dengan komisariat lain  (dari segi administrasi, kelembagaan dan  proses perkaderan) muncul, setidak-tidaknya sama dengan komisariat lain tanpa meninggalkan kultur yang sudah berlangsung selama sekian lama di HMI Komisariat Dakwah.
Keinginan itu tertanam dan semakin kuat dalam diri saya, sehingga keinginan yang kuat itu,  menjadi  salah satu motivasi  untuk  maju  sebagai  kandidat  ketua  umum  HMI  Komisariat Dakwah Sunan Ampel.
Pada RAK 2014, saya terpilih untuk memimpin sekaligus melanjutkan estafet kepengurusan HMI Komisariat Dakwah di periode 2014-2015.
Setelah proses RAK selesai, keinginan tersebut menjadi poin pemikiran dalam menyusun kebijakan umum dan berharap dapat direalisasikan dalam kepengurusan periode berjalan waktu itu. Seiring berjalannya waktu, periode kepengurusanpun memasuki akhir kepengurusan, dengan segala kekurangan yang ada dalam mewujudkan keinginan tersebut, maka pada RAK 2015 keinginan tersebut diterjemahkan dalam bentuk gagasan yang dirumuskan dalam sebuah tema RAK yakni Internalisasi Nilai-Nilai ke-HMI-an; Upaya Mewujudkan Regenerasi yang Progressif- Revolusioner menuju HMI Dakwah Bangkit”.
Tidak hanya selesai pada dijadikan sebuah tema RAK, keinginan yang sudah berbentuk gagasan tersebut saya sampaikan juga pada sidang-sidang pleno dalam RAK, dengan harapan bahwa gagasan ini bukanlah gagasan pribadi, namun mampu menjadi gagasan bersama dan mampu diwujudkan bersama-sama menuju HMI Dakwah Bangkit, bangkit dari segala kekurangannya selama ini menjadi mampu menyempurnakan dengan kondisi yang lebih baik di masa yang akan datang sehingga terwujudlah gagasan HMI Dakwah Bangkit tersebut.
Setelah melalui proses RAK, gagasan HMI Dakwah Bangkit bukan lagi sebuah gagasan pribadi namun sudah menjadi gagasan bersama yang mampu diterjemahkan dalam sebuah langkah strategis dan taktis yang terlegislasi secara formal, hal itu terbukti pada saat sidang pleno III RAK yang mampu merekomendasikan sebuah langkah strategis yakni Sinergisitas Lintas Generasi, dengan langkah taktis Diskusi Khusus Bersama.
Memaknai gagasan HMI Dakwah Bangkit!
HMI Dakwah Bangkit bukanlah gagasan politis apalagi pragmatis, gagasan tersebut merupakan salah gagasan perkaderan di HMI, khususnya di HMI Komisariat Dakwah, selain itu gagasan ini bukan untuk mengintervensi, meremehkan, atau bahkan mendistruk kepengurusan  yang sedang menjalankan periode kepengurusannya saat ini atau yang telah menjalankan periodenya di masa- masa sebelumnya, sebagaimana sudah saya jelaskan diawal tulisan.
Juga bukan sekedar jargon yang lantang digaungkan tanpa memiliki langkah strategis dan taktis dalam mewujudkannya. Namun merupakan salah satu sumbangsih pemikiran dalam mencapai tujuan bersama khususnya di keluarga besar HMI Komisariat Dakwah di masa-masa yang akan datang.
Sudah pasti, keinginan bersama itu akan bisa terwujud apabila diusahakan secara bersama-sama pula, bukan diusahakan oleh sekelompok apalagi individu saja untuk mewujudkannya agar bisa benar- benar tercapai HMI Dakwah Bangkit yang maksimal, tanpa ada yang merasa tidak dilibatkan dalam mewujudkannya.
Dalam logika sederhana, mengusahakan sesuatu secara bersama itu berarti semua keluarga besar HMI Komisariat Dakwah saling bahu-membahu untuk menjadikan HMI Komisariat bisa benar-benar bangkit.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa komponen HMI Komisariat Dakwah terdiri dari anggota, pengurus, senior dan alumni atau dalam bahasa yang lain terdiri dari kader dan alumni. Sehingga  dalam  rangka  menjadikan  HMI  Dakwah  Bangkit  semua  komponen  tersebut  harus mampu saling bahu membahu untuk mencapai tujuan HMI Dakwah Bangkit.
Karena HMI Dakwah Bangkit  sebagaimana telah disampaikan sebelumnya sudah menjadi tujuan bersama, maka konsekuensi logis dari tujuan bersama tersebut adalah melaksanakannya secara bersama-sama juga, sehingga akan tercapai hasil yang maksimal pula.
Selain itu, juga diperlukan komunikasi yang intens, agar tercipta sinergisitas dalam mewujudkan tujuan bersama ini dengan baik dan maksimal. Sebagaimana telah direkomendasikan dalam  sidang pleno  III RAK 2015  kemaren  bahwa untuk  mencapai  tujuan bersama  yang kita inginkan, salah satu caranya adalah dengan melaksanakan Diskusi Khusus Bersama.
Diskusi Khusus Bersama ini, dilaksanakan oleh setidak-tidaknya mantan ketua umum yang masih di struktur atau masih memiliki masa keanggotaan, tentunya dengan jajaran pengurus di periodenya yang di komandani oleh Ketua Umum yang sedang menjabat.
Dalam Diskusi Khusus Bersama ini nantinya diharapkan mampu menampung ide, gagasan arah  kebijakan  komisariat  serta  keinginan  bahkan  kebutuhan  kader  Komisariat,  tentunya diharapkan mampu di eksekusi dan diusahakan pencapaiannya.
Dengan demikian proses perkaderan yang dilakukan oleh kader-kader Komisariat dapat maksimal dan betul-betul mampu bermanfaat serta dapat mewujudkan tujuan dari HMI itu sendiri.

Tujuan dari ditulisnya gagasan ini, agar keinginan untuk bersinergis lintas generasi di HMI Komisariat Dakwah dapat diwujudkan dan menjadi pemahaman bersama, serta mampu diaplikasikan secara bersama-sama pula guna mencapai tujuan kita bersama yakni HMI Dakwah Bangkit selain itu agar apabila terdapat kekeliruan dalam gagasan ini dapat disempurnakan oleh kita semua keluarga besar HMI Komisariat Dakwah di masa-masa yang akan datang.
Continue Reading...

Follow The Author